BKSDA Jateng Amankan Samson dan Boboy dari Pemilik Tak Kantongi Tulisan Izin

BKSDA Jateng Amankan Samson dan Boboy dari Pemilik Tak Kantongi Tulisan Izin

Merdeka. com – Awak Balai Konservasi Sumber Daya Negeri (BKSDA) Jawa Tengah menyelamatkan besar orang utan dewasa berjenis kemaluan jantan di dua lokasi bertentangan. Mereka diselamatkan lantaran dipelihara minus dokumen yang sah dari Bangsal Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Mengingat, orang utan satu jenis hewan yang dilindungi.

“Kami amankan dua ekor karakter utan bernama Samson dari institusi konservasi tak berizin di Taman Marga Satwa Jurang Kencana, Kendal, dan ‘Boboy’ dari kediaman karakter warga di Semarang, ” kata pendahuluan Kepala BKSDA Jateng, Darmanto, Rabu (5/8).

Setelah diamankan, tim BKSDA berkoordinasi dengan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) untuk menuntaskan pemeriksaan kesehatan. Dari buatan pemeriksaan diperkirakan masuk kategori karakter utan dewasa sekitar umur 20 tahunan.

“Kedua orang utan yang kita periksa masa ini kondisinya sehat, mereka bebas dari resiko Tuberculosis dan rabies, ” ujarnya.

Terkait penyitaan orang utan bernama Samson di Taman Marga Satwa Lurah Kencana Kendal, pihak BKSDA tunggal sudah berupaya menagih janji Pemkab Kendal untuk melengkapi surat permisi Lembaga Konservasi (LK). Namun datang sekarang tidak ada hasil.

“Makanya ada satu orang utan di Taman Jurang Kencana langsung kita amankan. Upaya ini semata untuk penyelamatan satwa langka karena mereka tidak punya kerelaan resmi, ” imbuhnya.

Sedangkan mawas Boboi sendiri dipelihara dari warga bernama Edwin Sanjaya. Kondisinya saat diamankan mengalami stroke lantaran diberi makan oleh pemiliknya secara berlebihan.

“Sekarang ke dua orang utan telah kembali sehat dan siap dilepasliarkan ke Ketapang, Kalimantan Barat lewat jalur laut, ” jelasnya.

Sedangkan seorang dokter hewan
Wendi Prameswari mengatakan setelah melewati pemeriksaan kesehatan, dua punggung orang utan sendiri kondisinya siap ditranslokasikan.

“Kita status nunggu saja. Setelah sampai di Ketapang biasanya di karantina zaman dua bulan sebagai bentuk introduksi lingkungan, ” kata Wendi Permaisuri.

Dia mengungkapkan sekitar ini
sudah ada 100 ekor orang utan yang telah direhabilitasi di Ketapang. Proses translokasi nantinya dengan mengawasi perkembangan kesehatannya.

“Kita kenalkan mawas kepada pakan alaminya hingga membiasakan mereka membuat sarang sendiri. Jadi pelepasliaran akan dinilai dari berbagai aspek, ” ungkap Wendi. [rhm]