BOR di Palembang Tertinggi Selama Pandemi, Ledakan Kasus Covid-19 Mengintai

Merdeka.com – Tingkat keterisian tempat tidur atau Bad Occupancy Ratio (BOR) di Palembang mencapai angka tertinggi selama pandemi Covid-19 di angka 76 persen. Ledakan kasus virus corona terus mengintai dan diperlukan kesiapan tenaga medis.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Palembang Fauziah mengungkapkan, terdapat 18 rumah sakit rujukan yang melayani pasien Covid-19 kategori sedang dan berat. Tempat tidur yang disiapkan sebanyak 1.075 dan sudah terisi 76 persen.

“BOR sudah di atas 70 persen artinya sudah mengkhawatirkan,” ungkap Fauziah, Rabu (7/7).

Jika BOR terus meningkat, kata dia, tidak menutup kemungkinan setiap rumah sakit menambah tempat tidur bagi pasien corona. Apalagi saat ini kasus harian Covid-19 di Sumsel semakin tinggi, di atas 200 kasus per hari bahkan kemarin mencapai rekor tertinggi di angka 255 kasus.

“Perlu segera ditangani agar tidak terjadi lonjakan kasus yang signifikan,” kata dia.

Sementara itu, epidemiolog Universitas Sriwijaya Palembang Iche Andriyani Liberty mengaku sangat mengkhawatirkan penyebaran virus corona di Palembang dan Sumsel pada umumnya. Kekhawatiran tidak hanya mengenai kekurangan tempat tidur, melainkan kemungkinan tenaga kesehatan kewalahan menghadapi banyaknya pasien yang dirawat.

“Menambah BOR atau tempat tidur sangat mudah dilakukan. Tapi bagaimana jika lonjakan kasus meningkat, apakah tenaga dokter, perawat, dan tempat tidur ICU di Sumsel siap. Ini yang harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Menurut dia, ketersediaan tempat tidur dan kesiapan tenaga medis harus seimbang. Hal ini untuk mencegah terjadinya penolakan pasien Covid-19 oleh rumah sakit yang berdampak semakin buruk.

“Secara kuantitas tempat tidur ICU kita akan kewalahan, di atas 70 persen saja sudah berbahaya. Takutnya saat pasien datang dalam keadaan berat, rumah sakit tidak siap dan pasien datang mengantre seperti di Jawa,” kata dia.

Dia menilai kasus Covid-19 di Sumsel bakal terus meningkat dengan berbagai indikasi yang mulai terlihat. Seperti bertambahnya dua daerah zona merah, Lahat dan Musi Banyuasin, yang menambah daftar status zona merah menjadi empat daerah.

Ledakan kasus Covid-19 di Sumsel perlu diantisipasi sejak dini terutama di kabupaten dan kota di luar Palembang. Sebab, banyak kasus konfirmasi positif di daerah tidak dilanjutkan dengan proses tracing sehingga menyebabkan penularan yang tak terkendali.

“Palembang banyak kasus karena dekat dengan faskes, tracing dilakukan. Daerah lain jangan sampai diam, ini bisa menjadi fenomena gunung es,” kata dia.

Bagi masyarakat yang menjalani isolasi mandiri, dia meminta untuk disiplin protokol kesehatan dan menjaga masyarakat sekitar. Mereka harus tinggal di rumah atau tempat isolasi mandiri sampai sembuh agar virus tidak menular ke orang lain.

“Isoman jangan kemana-mana, lonjakan kasus ini karena mobilitas masyarakat yang tinggi,” pungkasnya. [ded]