Jadwal Tunggu Haji di Sulsel hingga 43 Tahun

Jadwal Tunggu Haji di Sulsel hingga 43 Tahun

Lepas. com – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan menyatakan daftar tunggu jemaah calon haji (JCH) dalam Sulsel berdasarkan data terbaru mematok 43 tahun.

Besar Bidang Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama Sulsel Kaswad Sartono mengatakan tingginya minat bangsa khususnya kaum Muslimin untuk menunaikan satu diantara rukun islam ini sangat besar, bahkan daftar tunggunya tenggat 43 tahun.

“Untuk daftar tunggu (waiting list) di Sulsel itu 43 tahun. Ketertarikan warga untuk berhaji tiap tarikh terus meningkat, ” ujar Kaswad Sartono saat menjadi pembicara pada Musda III Kesthuri DPD Sulsel di Makassar , Rabu (9/9).

Ia mengatakan lamanya antrean untuk terbang haji itu menjadi potensi untuk anggota Kesatuan Travel Haji serta Umroh Republik Indonesia (Kasthuri) untuk menyelenggarakan ibadah umroh.

Kaswad menyatakan jika melihat fenomena pemberangkatan, ia mendukung program haji milenial atau haji muda, yakni daftar haji sejak usia dini.

Ia juga mendorong wacana perubahan regulasi di Undang-undang Haji terkait pembatasan usia dengan dibolehkan daftar haji dari yang saat ini 12 tahun, menjadi lebih muda atau bahkan dibanding balita.

“Daftar tunggu terlama 43 tahun calon publik haji dari Bantaeng, 40 tarikh dari Sidrap, dan 39 tarikh dari Pinrang, ” katanya.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dalam sambutannya saat membuka Musda III Kesthuri DPD Sulsel tersebut menjelaskan tugas pemerintah adalah memberi pelayanan yang terbaik kepada rakyatnya.

“Pemerintah menjaga imunitas masyarakat dengan cara menjadi bujang yang terbaik. Tujuannya memudahkan kelompok, termasuk dalam beribadah, ” ujarnya.

Gubernur juga mengundang anggota Kesthuri Sulsel untuk lestari berinovasi dan tidak larut secara tekanan di masa pandemi COVID-19.

Di hadapan para peserta, mantan Bupati Bantaeng dua periode ini mengungkap beberapa jalan yang ditempuh Pemprov Sulsel untuk menangani COVID-19 yang kemudian dibagi menjadi dua kategori.

Kategori pertama, yakni yang terkonfirmasi ada penyakit bawaan diobati di rumah sakit dan yang terkonfirmasi positif tanpa gejala di karantina di hotel untuk perbaikan gizi dan imun.

“Bantu pemerintah dalam penanganan COVID-19, sedikitnya terlibat aktif dalam kampanye memakai masker, menjaga jarak dan giat mencuci tangan, ” ucapnya. [ded]