Masjid Lawang Kidul, Saksi Perjuangan Rakyat Palembang Lawan Kolonial

Merdeka.com – Masjid Lawang Kidul memiliki histori besar dalam perkembangan Islam di Palembang Sumatera Selatan dan perjuangan melawan kolonial. Meski telah berdiri 140 tahun yang lalu, bangunan masjid itu tetap dipertahankan seperti sedia kala.

Masjid itu terletak di Jalan Slamet Ryadi, Lorong Lawang Kidul, Kelurahan Lawang, Kecamatan Lawang Kidul, Ilir Timur II, Palembang. Keberadaannya tepat di pinggir Sungai Musi dan berdekatan dengan Pelabuhan Bom Baru.

Memasuki masjid, terasa hidup di masa tempo dulu. Bangunan utamanya 99 persen masih bertahan sejak awal pembangunan, hanya lantai dan dinding dipasang granit, juga penambahan bangunan belakang dan sayap masjid untuk menyesuaikan jumlah jemaah kekinian.

Tiang masjid terdapat empat penyangga berbentuk segi delapan berukuran sekitar 8 meter dari kayu unglen. Tiang utama dikelilingi 12 tiang penyangga setinggi 6 meter yang juga berasal dari kayu jenis yang sama.

©2021 Merdeka.com

Di bagian luar terdapat menara yang mirip dengan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo atau biasa disebut Masjid Agung Palembang. Menara itu memiliki tiga undakan pada bagian tubuh menara.

Sementara atap masjid memiliki tiga undakan yang masing-masing undakan seakan-akan menutupi undakan lainnya. Atap terbuat dari genteng dan di bagian puncak atap terpasang bulan sabit.

Atap Masjid Lawang Kidul memiliki tiga undakan. Uniknya, undakan kedua seakan-akan menutupi undakan pertama. Di antara undakan kedua dan ketiga tidak ada diberi sekat jendela. Bagian puncak atap terpasang bulan sabit.

Material masjid terdiri atas campuran batu kapur, putih telur, dan pasir. Bahan-bahan inilah yang mempertahankan lamanya usia bangunan. Sementara tiang, pintu, dan jendela terbuat dari kayu unglen yang dikenal tahan air.

Masjid Lawang Kidul dapat disebut sebagai miniatur Masjid Agung Palembang karena memiliki arsitektur yang sama, yakni perpaduan budaya China dan Melayu. Hanya saja, bentuk dan bahan bangunan Masjid Lawang Kidul masih tetap terjaga hingga saat ini.

©2021 Merdeka.com

Masjid itu dibangun atas biaya sendiri oleh Masagus H Abdul Hamid bin Masagus H Mahmud atau lebih dikenal dengan nama Ki Marogan pada 1881 Masehi dan selesai pembangunan 10 tahun kemudian. Lawang Kidul sendiri berarti pintu selatan yang selaras dengan salah pintu masuk berkembangnya Islam di Palembang.

Ki Marogan adalah ulama terkemuka sekaligus usahawan terkenal pada zamannya. Sebelumnya, Ki Marogan mendirikan masjid di wilayah seberang ulu Palembang dengan nama Masjid Ki Marogan tepatnya di Kertapati. Masjid Lawang Kidul merupakan masjid tertua ketiga di Palembang setelah Masjid Agung dan Masjid Ki Marogan.

Ki Marogan lahir tahun 1811 M masih keturunan Kesultanan Palembang dari Sunan Cinde Balang. Di usia muda, Ki Marogan belajar agama Islam di tanah Arab, salah satu gurunya adalah Syeikh Abdul Somad Alpalembani, seorang ulama asal Palembang.

Sejarawan dari Universitas Sriwijaya Palembang Dedi Irwanto menjelaskan, Masjid Lawang Kidul didirikan Ki Marogan atas keperihatinannya terhadap minimnya masjid di Palembang saat itu, sementara umat Islam sangat banyak. Dia pun membangun dua masjid di Palembang.

“Ki Marogan mewakafkan hartanya untuk membangun Masjid Ki Marogan di seberang ulu dan 10 tahun kemudian dibangun Masjid Lawang Kidul di seberang ilir Palembang,” ungkap Dedi beberapa hari lalu.

©2021 Merdeka.com

Ada beberapa pertimbangan Ki Marogan membangun Masjid Lawang Kidul di kawasan itu. Di antaranya berada dari daerah asal istri pertamanya Masayu Maznah dan banyaknya umat Islam di sekitarnya sementara ada pembatasan pembangunan masjid oleh kolonial Belanda.

“Ketika itu masjid ini dapat menampung banyak jemaah, orang yang beraktivitas di Sungai Musi bisa mampir ke sana,” kata dia.

Selama dibuka untuk umum, salat wajib di masjid itu kerap kali diimami langsung oleh Ki Marogan. Hal itu sebagai bukti perjuangan Ki Marogan dalam mendakwakan agama Islam di Palembang.

“Ki Marogan wafat tahun 1901 Masehi, beliau mengimami salat di masjid itu lebih kurang 10 tahun,” ujarnya.

Pada masanya, Masjid Lawang Kidul memiliki peranan penting dalam aktivitas masyarakat, seperti perdagangan, dakwah, musyawarah, dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Dapat dikatakan, masjid itu menjadi pusat kajian keagamaan seperti pondok pesantren pada masa sekarang.

“Sebelum ada pendidikan formal di Palembang, salah satu pendidikan normal terbesar di Palembang itu ada di Masjid Lawang Kidul,” kata dia.

Kemudian, masjid itu menjadi markas perjuangan melawan kolonial dan terus berlangsung hingga Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang pada 1 hingga 5 Januari 1947.

©2021 Merdeka.com

“Pejuang kita seperti TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bermarkas di sana. Karena itu Masjid Lawang Kidul memiliki nilai historis yang tinggi, baik dakwah maupun perjuangan melawan penjajah,” terangnya.

Sementara itu, pengurus Masjid Lawang Kidul Kgs Muhammad Fauzi A Roni mengatakan, pihaknya masih mempertahankan keaslian bangunan dan dakwah Islam sesuai wasiat Ki Marogan. Pengunjung dari luar kota rutin berkunjung untuk mencari keberkahan dari ulama besar itu.

Beragam kegiatan keagamaan rutin digelar baik harian maupun mingguan di Masjid Lawang Kidul. Seperti kajian ibadah, tabligh akbar, dan lainnya.

“Setiap bulan Rajab, kami laksanakan tapak tilas dari Masjid Lawang Kidul menuju Masjid Ki Marogan di Kertapati melalui Sungai Musi. Kami gelar haul dan ziarah ke makam beliau sebagai penghormatan atas jasanya berdakwah semasa hidupnya,” kata dia.

Dia meminta pemerintah segera menetapkan Masjid Sriwijaya masuk sebagai cagar budaya. Saat ini statusnya masih terdaftar dalam pengajuan cagar budaya yang sudah berlangsung cukup lama.

“Informasinya kami terima masih antrean untuk dijadikan cagar budaya. Kami minta segera ditetapkan agar kelestarian Masjid Lawang Kidul tetap terjaga sampai kapan pun,” pungkasnya. [cob]