Pertokoan Nonesensial di Pusat Kota Garut Ditutup Paksa Tim Satgas

Merdeka.com – Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Garut kembali melakukan penegakan aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, Minggu (4/7). Penegakan tersebut dengan menutup seluruh toko yang termasuk dalam kriteria usaha tidak boleh buka selama PPKM darurat diberlakukan di kawasan perkotaan.

Tim yang dipimpin Wakil Ketua Satgas Covid-19 Komandan Kodim 0611, Kepala Kejaksaan Negeri, dan Kapolres Garut menutup toko-toko yang ada pusat kota. Toko-toko tersebut mulai dari yang ada di Jalan Ahmad Yani, Ciledug, Papandayan, Cikuray, Pasar Baru, Mandalagiri, Guntur hingga Pramuka.

“Kami sebagai pelaksana, mau tidak mau harus melakukan perintah dari Presiden dengan menutup seluruh toko yang tidak diperbolehkan buka selama PPKM darurat diberlakukan. Selama PPKM ini yang boleh buka adalah minimarket, warung yang menjual sembako, pusat kesehatan, hingga apotek. Jadi yang lainnya harus tutup atau hanya melayani take away,” kata Komandan Kodim 0611 Garut, Letkol CZi Deni Iskandar.

Dia menjelaskan bahwa mayoritas toko yang ditutup pihaknya adalah toko-toko fesyen. Untuk supermarket, menurutnya kebanyakan sudah menutup kawasan selain kebutuhan rumah tangga.

Selain menutup toko-toko fesyen, dalam kegiatan tersebut tim Satgas juga menutup toko-toko yang ada di kawasan sentra kerajinan kulit sukaregang. “Ya ini juga kami tutup karena masuk ke dalam sektor nonesensial, semoga semua memahaminya,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim Satgas terpaksa melakukan penyegelan terhadap dua tempat usaha karena dianggap membandel. Kedua tempat yang disegel tersebut adalah klinik kecantikan dan toko buku. Keduanya berada di kawasan Jalan Ahmad Yani.

Kepala Kejaksaan Negeri Garut, mengatakan bahwa kedua tempat itu disegel karena dianggap membandel. “Sebelumnya sudah kami minta untuk menutup dan tidak membuka kegiatannya. Pas kita balik lagi ternyata masih berkegiatan, jadi kami segel,” terang Sugeng.

Hingga saat ini, menurut Sugeng sudah ada tujuh tempat usaha yang disegel tim Satgas Covid-19 Kabupaten Garut. Para pemilik tempat usaha itu akan menjalani persidangan pada Senin (4/7) untuk menentukan tindakan yang akan diberikan kepada pelanggar.

Selain menutup toko-toko, menurut Sugeng, seluruh jalur yang masuk ke kawasan perkotaan dilakukan penyekatan sehingga tidak bisa dimasuki begitu saja. Tujuan dari hal tersebut adalah untuk membatasi kegiatan masyarakat.

“Apa yang kami lakukan ini adalah untuk menekan kasus Covid-19 di Kabupaten Garut, demi kepentingan dan keselamatan bersama. Kami akan tegas, bahkan mungkin lebih tegas dari sebelumnya,” tutup Sugeng.

Selama penutupan, para pemilik tempat usaha mayoritas memahami kegiatan tersebut. Ada juga sebagian kecil lainnya yang merasa kaget karena mengaku tidak mendapatkan sosialisasi dari pemerintah setempat.

Penutupan toko-toko di pusat Kota Garut menjadikan kondisi jalan menjadi betul-betul sepi. Sejumlah warga yang tinggal di sekitar jalan tersebut bahkan ada yang sempat berjemur di pinggir jalan. Beberapa lainnya ada yang sempat bermain bola. [cob]