Polisi Belasan Warga Terkait Perusakan Ambulans Jenazah Pasien Covid-19 di Jember

Merdeka.com – Insiden perampasan jenazah pasien Covid-19 yang disertai perusakan mobil ambulans jenazah di Jember, Jawa Timur, masih terus bergulir. Hingga Kamis (29/7) malam, Satreskrim Polres Jember telah merampungkan pemeriksaan terhadap 12 saksi atas insiden yang terjadi di Dusun Sukmo Elang, Desa Pace, Kecamatan Silo tersebut.

“Kita memeriksa di semua aspek, baik soal pelanggaran protokol kesehatan (prokes) maupun perusakan mobil ambulans,” ujar AKP Komang Arya Wiguna, Kasat Reskrim Polres Jember saat dikonfirmasi merdeka.com pada Kamis (29/7) malam.

Selain memeriksa saksi, polisi juga mendapatkan sejumlah petunjuk. Diantaranya video aksi anarkis yang viral. Polisi masih mencari warga yang diduga menyebarkan kabar bohong sehingga memprovokasi warga lainnya untuk berbuat anarkis terhadap mobil ambulans yang hendak memakamkan warga secara prokes.

“Kan yang teriak (di dalam video viral) itu ada banyak. Jadi kita masih harus mencari terus. Sehingga tidak menutup kemungkinan, saksi yang diperiksa akan bertambah lagi,” jelas Komang.

Rumah Sakit Bantah Mencuri Organ Tubuh Jenazah Pasien Covid

Peristiwa tragis berbau hoaks tersebut terjadi pada Jumat (23/7) pekan lalu. Bermula ketika seorang warga setempat meninggal dunia di Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) dengan status positif Covid-19. Sesuai aturan, pihak rumah sakit milik mantan bupati Jember dr Faida tersebut, melakukan pemulasaraan sesuai protokol kesehatan (prokes).

“Kita sudah melakukannya sesuai syariat Islam berdasarkan Fatwa MUI tahun 2020 tentang pemulasaraan jenazah pasien Covid-19. Pihak keluarga juga sudah setuju, bahkan perwakilannya ada yang ikut pemulasaraan menggunakan APD lengkap,” papar drg Yunita, Direktur RSBS saat dikonfirmasi terpisah.

Mobil ambulans jenazah RSBS lantas menuju Dusun Sukmo Elang, salah satu kawasan paling terpencil di Jember, dengan kontur jalan yang terjal. Namun begitu tiba di lokasi, mobil ambulans yang dikawal polisi dan TNI tersebut, sudah dihadang oleh warga yang menolak pemakaman dengan protokol kesehatan.

“Warga memaksa agar peti jenazah diserahkan kepada mereka. Padahal, saat itu di dalam mobil ambulans juga masih ada perwakilan keluarga almarhum,” papar Yunita.

Karena kalah jumlah, petugas mobil ambulans jenazah RSBS terpaksa menyerahkan peti jenazah pasien Covid tersebut kepada warga. Saat itulah, permasalahan dimulai. Ketika peti di buka di dalam rumah duka, warga mendapati masih ada darah yang mengalir dari jenazah. Peristiwa itu direkam dalam sejumlah video pendek yang kemudian viral di media sosial.

Dalam video viral, terdengar suara warga yang berteriak dengan menuduh rumah sakit telah mencuri organ tubuh dari jenazah pria Dusun Sukmo Elang yang meninggal karena Covid tersebut. Hanya dalam hitungan detik, teriakan itu menyulut emosi warga yang kemudian melempari mobil ambulans jenazah dengan batu.

Emosi warga mulai mereda setelah ditenangkan oleh tokoh agama setempat. Namun, sopir ambulans sudah terlanjur mendapat persekusi dari warga.

“Petugas kami sempat shock karena tidak mengira mendapat peristiwa seperti ini. Kaca mobil ambulans pecah di berbagai sisi. Kunci mobil dan STNK juga dirampas oleh warga. Sehingga untuk pulang, tim kami masih harus menunggu kiriman dari ambulans yang lain dengan jarak tempuh yang cukup jauh,” pungkas Yunita.

Isu Pencurian Organ Dibantah Tokoh Agama

Sosok yang menenangkan warga agar tidak melanjutkan aksi anarkis tersebut adalah KH Farid Mudjib. Pria yang akrab di sapa Ra Farid –sebutan untuk putra kiai dalam bahasa Madura – itu menjadi satu dari 12 saksi mata yang telah diperiksa oleh Satreskrim Polres Jember.

“Isu pencurian organ tubuh itu tidak benar. Saya sudah memeriksa sendiri,” papar Ra Farid saat diwawancarai usai menjalani pemeriksaan.

Ra Farid menjelaskan, ia diminta datang untuk memimpin proses memandikan jenazah dan menjadi imam salat jenazah oleh keluarga. “Sebenarnya dari Muspika sudah melarang karena jenazah tersebut positif Covid. Tetapi warga tetap memaksa,” ujarnya.

Pada malam naas itu, Ra Farid datang ketika suasana sudah panas dan mobil ambulans jenazah terlanjur dirusak warga. Ra Farid lantas ikut memeriksa kembali jenazah dan memastikan tidak ada organ tubuh yang hilang. “Saya lantas menenangkan warga dengan mengajak membaca sholawat. Karena isu tersebut disebarkan tanpa melalui tabayyun (klarifikasi),” sesal Ra Farid.

Lebih lanjut, Ra Farid menjelaskan, ada 2 gelombang pemeriksaan warga sebagai saksi di kepolisian. Pada hari pertama usai peristiwa, terdapat 3 warga yang diperiksa. Lalu di hari kedua, ada 10 warga yang diperiksa, termasuk diantaranya Ra Farid. Setiap akan diperiksa, warga terlebih dulu diperiksa tes PCR.

“Saat bersama saya itu, ada satu yang ternyata positif. Sehingga hanya 9 yang diperiksa termasuk saya,” ujar Farid.

Satu orang warga yang positif terpapar Covid tersebut merupakan kerabat almarhum yang pada malam naas itu, ikut dalam proses pemulasaraan jenazah tanpa protokol kesehatan (prokes). [fik]