RS Polri Ungkap Kondisi Yahya Waloni: Relatif Membaik, Sudah Bisa Diajak Bicara

Merdeka.com – Muhammad Yahya Waloni, tersangka atas kasus dugaan ujaran kebencian hingga kini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Dia dirawat beberapa hari lalu akibat sakit pembengkakan jantung.

Kabid Perawatan Medik dan Perawatan RS Polri Kombes Yayok Witarto mengatakan, saat ini kondisi Yahya Waloni masih dalam perawatan. Namun lebih membaik.

“Relatif membaik mas,” kata Yayok kepada merdeka.com, Minggu (29/8).

Dia juga menyampaikan, kalau Yahya Waloni telah bisa diajak berbicara. Yahya Waloni saat ini berada di ruang perawatan tahanan.

Lebih lanjut terkait kapan Yahya Waloni akan diserahkan ke Mabes Polri, ia mengaku belum tahu. Namun apabila sudah stabil akan segera diserahkan.

“Bila sudah stabil terus mas,” katanya.

Sebelumnya, Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan, Yahya Waloni mengeluh jika dirinya mengalami sesak napas. Diketahui, ia ditangkap pada Kamis (26/8) kemarin di Perumahan Permata, Cluster Dragon, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“(Ustaz Yahya Waloni) Mengeluh sesak napas,” kata Agus saat dikonfirmasi, Jumat (27/8).

Yahya Waloni ditangkap penyidik Bareskrim Polri pada 26 Agustus 2021 di Perumahan Permata, Cluster Dragon, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penangkapan itu terkait dengan adanya laporan komunitas Masyarakat Cinta Pluralisme yang tertuang pada Laporan Polisi (LP) Nomor: LP/B/0287/IV/2021/BARESKRIM tertanggal 27 April 2021.

Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, status Yahya Waloni sudah menjadi tersangka terkait dugaan ujaran kebencian atau penodaan agama tertentu.

“Sudah (tersangka), itu kan prosesnya sejak bulan April. Bulan Mei sudah naik penyidikan sudah jadi tersangka, proses seperti itu,” kata Rusdi kepada wartawan, Jumat (27/8).

Yahya Waloni, disebutnya diduga telah melanggar ujaran kebencian yang tertuang dalam Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45a ayat 2.

“Di mana dalam Pasal tersebut diatur dengan sengaja dan tidak sah menyebarkan informasi akan menyebabkan permusuhan, kebencian berdasarkan SARA dan juga disangkakan Pasal 156 huruf a, kitab UU Hukum Pidana, itu melakukan penodaan terhadap agama tertentu,” jelasnya. [gil]