2 Pembalak Ditangkap di SM Bukit Rimbang dan Gundukan Baling, KLHK Telusuri Pemilik uang

Merdeka. com – Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menangkap dua pelaku pembalakan pada kawasan Suaka Margasatwa Tanah Rimbang dan Bukit Baling, Desa Pangkalan Indarung, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Pemodalnya masih diburu.

Menurut pancaran pers KLHK yang diterima di Jakarta pada Sabtu (12/6), tim KLHK, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, dan TNI , sudah menyita barang bukti berbentuk 15 batang kayu penuh dan buldoser dari kedua tersangka pada Kamis (10/6).

Pelaku RB (41) ditangkap saat mengoperasikan buldoser dengan bantuan RC (23) untuk membuka ulama. Alat berat itu selalu digunakan untuk menarik semak bulat menggunakan kawat sling.

Kedua karakter saat ini diamankan dalam Kantor Seksi Wilayah II Balai Penegakan Hukum KLHK Wilayah Sumatera.

“Operasi ini adalah jalan penyelamatan habitat harimau sumatera SM Bukit Rimbang Gundukan Baling, salah satu kawasan konservasi di Provinsi Riau, ” kata Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK Sustyo Iriyono.

Sustyo mengatakan, penggunaan instrumen berat untuk mengangkut kayu tebangan menunjukkan kegiatan tersebut ada pemodalnya.

“Saat ini penyidik cukup mendalami siapa saja pemodalnya, ” kata dia.

Direktur Jendral Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan bahwa para-para pelaku kejahatan pencurian semak, termasuk pemodal, mendapatkan keuntungan dengan merusak kawasan pelestarian dan mengancam kehidupan klub, sehingga harus ditindak kasar.

“Mereka harus dihukum seberat-beratnya agar jera. Kami tidak akan meninggalkan menindak pelaku kejahatan kepada sumber daya alam, ” sebut Rasio seperti dilansir Antara.

Karakter pembalakan pohon ilegal mampu dijerat menggunakan Pasal 83 ayat (1) huruf a Jo Pasal 85 bagian (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Alas Jo Pasal 55 bagian (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Mereka bertemu ancaman pidana penjara menyesatkan lama 10 tahun & denda paling banyak Rp10 miliar jika terbukti menyelenggarakan tindak kejahatan itu. [yan]